MEMANG ANJING LEBIH MEMILIKI KESADARAN DIRI DIBANDINGKAN MANUSIA CONGKAK

Hari ini, terasa rasa-rasanya waktu berputar begitu cepat, seketika terbesit rupa-rupanya sudah bergulir waktu, ya hari ini sudah di tahun 2026, dan kejadianpun berulang meskipun dalam keadaan yang berbeda, mungkin mengawali tulisan ini menjadikan pembaca berpikir, kearah mana kata demi kata ini mengarahkan pikiran, kemana kalimat demi kalimat ini tertuju. Ingat, ini bukan terarah bukan pula tanpa tujuan, ini semua jelas, dan mempertegas sebagaimana Judul dari Tulisan ini :

Gambar dihasilkan AI


MEMANG ANJING LEBIH MEMILIKI KESADARAN DIRI
DIBANDINGKAN MANUSIA CONGKAK

Kita fokuskan kembali kepada kata ANJING, kenapa harus memilik kata Anjing? kita ulas tipis namun mendalam, Anjing adalah Hewan, berkaki empat, seringkali lidahnya terjulur keluar dengan liur kadang menetes, sebagian orang menyayangi dan menyanjung hewan ini, sebagiannya lagi jijik atau takut tersentuh olehnya, mungkin karena batasan aturan dari kepercayaannya, kita tidak membahas itu, kita rincikan bahwa Anjing adalah Hewan, dan hewan ini sering digunakan untuk Memaki atau Makian, kenapa kata Anjing yang sering dipakai untuk kata Makian? karena sebenarnya bukan karena Anjingnya tapi karena ia adalah hewan yang dipengaruhi dari berbagai pandangan seperti hubungan hirarki dan derajat, dimana Anjing yang merupakan Hewan dianggap derajatnya rendah dan tidak memiliki akal budi, dan manusia jauh memiliki derajat dari pada Anjing.

Lalu, bandingkan dengan Manusia, yang memiliki Derajat tinggi karena dianggap memilik Akal Budi, bagaimana dengan Congkak? nah, disini letak kedalaman tulisan ini, ternyata Manusia itu tidak lebih tinggi derajatnya dari ANJING, harus diakui Manusia yang dimaksudkan disini bukanlan semua Manusia, terbatas kepada Manusia yang Congkak? siapakah dia? siapakah mereka? siapa MANUSIA CONGKAK itu?

Mari kita teliti sedikit apa itu Kata Congkak? ketika menelisi kedalaman pengetahuan tentang bahasa, Congkak adalah merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri sangat mulia (pandai, kaya, dan sebagainya); sombong; pongah; angkuh, bagaimana bisa manusia yang katanya memiliki derajat tinggi, memiliki akal budi bisa mempunyai sifat atau sikap ini?

Filosofi Asa :
Sekarang kita masuk kedalam cerita dalam tulisan ini, Penulis memiliki pengalaman menarik tentang Jenis Manusia ini, ya benar manusia yang Congkak, rakus, kurang ajar, sampah, bajingan, brengsek, dan Penulis juga memiliki pengalaman dengan ANJING yang memiliki kesadaran diri.

PERSAHABATAN DENGAN ANJING YANG MEMILIKI KESADARAN DIRI

Hahaha, terdengar unik dan aneh memang, bisa-bisanya bersahabat dengan Anjing, ya ini benar, tidak diada-adakan, sesungguhnya demikian.

Ketika itu,malam hari, sendirian di Kota Medan, Karena kebutuhan tempat tinggal, seorang Pria yang bernama Silo mencari Kos-Kosan, iapun berkeliling di Kota Medan hingga pada jalan yang cukup untuk dilewati satu mobil Silo mendapati Rumah yang besart bertuliskan : disewakan Kamar Kos, kemudian iapun memasuki pekarangan rumah itu, dan memanggil pemilik Rumah, ketika itu dengan beberapa kali memanggil bukan Pemilik Rumah yang keluar melainkan Anjingnya, terus dan terus menerus Anjingnya itu menggonggong kepada Silo, karena dibatasi oleh Pagar, Anjing itu tidak sampai mengejar atau menggigit Silo, beberapa Menit Kemudian sepasang orangtua keluar dari Rumah Besar itu, dan bertanya kepada Silo apa tujuan kedatangannya malam-malam, silo pun mengutarakan tujuannya yang sedang mencari Kamar Kos, sepasang orangtua itu pun mempersilakan Silo Masuk, sebelum Silo memasuki Pagar Rumah, seakan Anjing itu tidak memperbolehkan Silo memasuki Pekarangan, Anjing itu terus mengonggong, ya menggonggong terus tiada henti, Silo yang menurut kepercayaannya tidak boleh menyentuh atau disentuh Hewan Anjing karena Haram, semula hampir mengurungkan niatnya, hampir saja dalam hatinya ia membatalkan untuk menyewa Kamar Kos, namun sepasang orangtua pemilik Rumah itu memanggil Anjingnya itu dengan Nama BRUNO, Brunooo.. Brunoooo sini masuk, sini Brunooo...

Terkaget Silo, melihat Anjing yang begitu galak, bisa patuh kepada ibu-ibu yang sudah tua(termasuk renta), dan suaminya juga panggil : Brunoooo... duduk, diam, si Anjing langsung duduk dan terdiam, melihat itu Silo tidak jadi membatalkan niatnya, Silo tetap berkeinginan untuk menyewa kamar kos disitu. Singkatnya, Silopun menyewa kamar kos disitu Perbulan dan bisa mulai masuk sehari setelah pembayaran.

Nah, haripun tiba, Silopun mulai tinggal di Kamar Kos tepat dibelakang rumah induk, dan ternyata... anjingnya itupun tinggal dibelakang rumah itu, dekat dengan kamar kos silo, hari pertama tinggal disitu, Silo terus mendapatkan gonggongan dari Bruno, lalu silo yang sudah terlanjur sewa kamar kos disitu, ia pun mulai menyesuaikan diri untuk berdamai dengan keadaan, meskipun bruno menggonggong terus, bruno sesekali ketika ada makanan, ia memberi silo makanan, dan berteriak kepada bruno, sesekali ia (silo) memanggil dengan baik anjing itu, Brunooo... sini brunoooo, nah tak lama hanya 3 sampai 4 hari bruno berubah, tidak lagi menggonggong kepada silo seperti awal-awal, silo terlihat seperti sudah berteman dengan bruno, dan bruno tidak lagi menatap silo seperti ancaman, begitupun seterusnya sampai hari-hari silo berlalu di sana, bruno sudah seperti sahabat silo, yang ketika pulang disambut baik oleh bruno, menggonggong ya tetap menggonggong tapi gonggongan itu seperti sambutan hangat, sambutan baik, hanya karena silo beberapa kali berbuat baik, membagi makanan dan sebagainya.

Dari cerita itu, simpulan sederhanaya adalah ternyata anjing bisa memiliki kesadaran diri, tau diri jika ada makhluk lain berbuat baik, diapun membalasnya dengan baik, itu dapat dianggap sebagai kesadaran dari seekor anjing ketika diperlakukan baik.

MANUSIA CONGKAK

Kali ini, kita beralih ke cerita MANUSIA CONGKAK, Manusia tentu lebih dari seekor Binatang, karena ia memang manusia, yang memiliki derajat lebih tinggi, namun ternyata tidak semua manusia memiliki itu, manusia hanya jasad, tubuh, watak binatang terdapat padanya, dilingkupi oleh akalnya, disini letaknya, akal, budi, manusia satu-satunya "hewan" yang bisa mengembangkan dirinya dan sekitarnya membentuk peradaban, menciptakan sesuatu untuk membuatnya lebih mudah.

kalau kita bahas manusia dengan segala hal yang mengikutinya, kapan kita mulai masuk kepada cerita Manusia Congkak? hahaha, baru saja seketika kita telah menjadi manusia congkak itu, dengan cara berpikir tergesa-gesa seperti itu. congkak itu angkuh, sombong, pongah, merasa diri paling mulia (pandai, kaya, dan sebagainya dan sejenisnya), iya, benar, anda baru saja demikian jika berpikir tergesa-gesa, masih mau menyangkal? tergesa-gesa itu masuk kepada sifat angkuh yang berakar pada ketidaksabaran terhadap dunia sekitarnya, melihat dunia sekitarnya tidak lebih mulia darinya, kenapa tergesa-gesa masuk pada keadaan itu? nah, lihatlah apa penyebab tergesa-gesa, ada unsur perfeksionisme didalamnya, bingung? perfeksionisme itu termasuk pada orang-orang yang segala-galanya ingin sempurna, itu pangkal dasarnya. paham?

Judul dari tulisan ini muncul ketika Penulis menghadapi "Anjing yang bersifat congkak", bermula itu semua dari pada perangainya yang baik, tutur kata dan sikap yang sopan, aghhh sebut saja pintar menjilat, tanpa disdari (bukan hanya saya) tapi semua orang pernah menghadapi anjing yang congkak ini, dia pintar bermanis-manis diri didepan tuannnya (dianggap tuannya) padahal unsur didalamnya tidak lebih sebagai benalu, numpang hidup, menyerap energi positif dari tuannnya, anjing bruno (sesungguhnya) masih lebih baik dari pada "anjing yang congkak" ini, ketika bruno diberi makan, diperhatikan, dikasih dan disayang, menjadi baik dan setia, senantiasa menanti tuannya pulang, tapi ketika si "anjing yang congkak ini diberikan sesuatu yang bahkan belum pernah ia temui, bahkan diberikan pengalaman atau pengetahuan, malah dianggapnya biasa saja, bukan haus tentang pengakuan, tapi ternyata bruno tidak lebih anjing dari si "anjing yang congkak" ini.

Anjing ini, ternyata hanya butuh induk semang, yang bisa menaungi dirinya, kepada ia mau dinaungi, karena ia tak punya tempat, eh ternyata dia ingin menjadi benalu juga, sudah menjadi anjing congkak masih ingin menjadi benalu yang menghisap makanan dari tempat ia bernaung, membenalu, sumpah serapah tulisan ini dikhususkan kepada si anjing itu, iya benar, benar dan sangat benar, jika salah satu pembaca merasa sebagai "manusia congkak" dan jadilah seanjing-anjingnya yang paling congkak.

seluruh pilihan kata dalam tulisan ini mungkin lebih dianggap pembaca sebagai ungkapan perasaan, tidak teratur struktur tulisannya, jauh dari kalimat yang mendidik, tapi terdidik bukan ditentukan oleh kalimat atau struktur bacaan, melainkan mampu berpikir kritis dari setiap sumber, bagi kalian yang membaca tulisan ini dan mampu menjadikannya sebagai Relung Imaji Filosofi dan Asa, maka tentunya akan menyerap informasi penting dari tulisan ini.

Kita Kembali pada Kisah Anjing yang Congkak ini, kiasan ini merupakan kata yang mungkin kurang pantas, tapi yakinlah bahwa Anjing (sesungguhnya) masih lebih baik dari pada Manusia Congkak.

Ternyata, kita Manusia tidak pernah jauh dari Tuhannya, kecuali orang-orang yang sombong.


Kesimpulan :

Maka pada simpul akhir tulisan ini, izinkan saya berbicara langsung kepada Anda, dengan suara yang barangkali tidak nyaman, namun jujur, sebab kisah tentang anjing dan manusia congkak ini bukanlah dongeng untuk ditertawakan, melainkan refleksi filosofis yang diam-diam mengendus ke dalam batin kita masing-masing. Tahun boleh berganti, peradaban boleh berkilau dengan teknologi dan gelar, tetapi watak manusia sering kali berputar di lingkar yang sama, merasa tinggi karena rupa, status, dan pengakuan, seraya lupa bahwa kesadaran diri tidak pernah lahir dari mulut yang pandai menjilat atau dada yang membusung karena merasa mulia. Bruno, seekor anjing, mengajarkan pelajaran yang terlalu sederhana untuk diterima manusia congkak, bahwa kebaikan dikenali dengan kebaikan, bahwa perhatian dibalas dengan kesetiaan, dan bahwa tahu diri adalah bentuk kecerdasan yang tidak membutuhkan akal budi berlapis-lapis teori. Sebaliknya, manusia yang congkak justru sering menjadi makhluk yang paling asing terhadap kebaikan, menyerapnya tanpa syukur, menerimanya tanpa kesadaran, lalu menganggapnya sebagai hak yang wajar, seolah dunia memang diciptakan untuk menopang kesombongannya. Sindiran ini tidak sedang memaki, sebab makian terlalu murah untuk watak yang begitu rumit, ini hanyalah undangan sunyi untuk berhenti sejenak, bercermin, dan bertanya dengan jujur, sudah sejauh mana kita lebih sadar daripada seekor anjing. Jika tulisan ini terasa tajam, itu karena kesadaran memang sering terasa perih saat pertama kali menyentuhnya, dan jika Anda merasa tersinggung, mungkin bukan karena kata-katanya, melainkan karena ada bagian dari diri yang dikenali. Pada akhirnya, semua kembali pada satu kesimpulan yang sederhana namun sering diingkari, bahwa kesadaran tidak terletak pada rupa, gelar, atau status sosial, melainkan pada tindakan yang tulus dan kemampuan menerima kebaikan tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.


Post a Comment for "MEMANG ANJING LEBIH MEMILIKI KESADARAN DIRI DIBANDINGKAN MANUSIA CONGKAK"